Wanita Menjadi Korban Paling Banyak Perdagangan Di Australia

Agen Casino

Wanita Menjadi Korban Paling Banyak Perdagangan Di Australia – Menurut riset paling baru, seputar 1/2 dari aktor perdagangan manusia yang diberi hukuman dalam beberapa waktu paling akhir di Australia ialah wanita. Sejumlah besar dari mereka pun jadi korban dari perdagangan tersebut.

Point penting:
Seseorang pakar sudah pelajari enam wanita yang diberi hukuman sebab perdagangan manusia dalam periode 13 tahun
Dia menjelaskan beberapa dari mereka datang dari latar belakang pekerja sex
Dia menjelaskan latar belakang aktor mesti diperhitungkan dalam hukuman
Calon PhD di Flinders University, Alexandra Baxter, menjelaskan beberapa orang belum mengerti kenyataan perdagangan manusia di Australia, dengan penduduk sejumlah besar memandangnya menjadi perihal yang dikerjakan oleh lelaki.

“Stereotipnya ialah jika beberapa korban diculik, dibius, diperkosa, diminta tapi itu belum pasti apa yang sebetulnya berlangsung,” tuturnya.

Penelitiannya, yang diedarkan dalam Journal of Human Trafficking, temukan banyak aktor sebetulnya ialah wanita yang sudah diperjualbelikan menjadi pekerja sex ke Australia.

Dari semua masalah perdagangan manusia yang diselidiki oleh Kepolisian Federal Australia, cuma dikit yang selesai dengan pengadilan serta penuntutan yang sukses.

Ada 20 tuduhan perdagangan manusia di Australia pada tahun 2004 sampai 2017.

Baxter pelajari enam dari sembilan wanita yang diberi hukuman sebab perdagangan manusia pada periode itu.

Dia menjelaskan, cerita dari banyak aktor wanita ikuti skema yang sama.

“Mereka diinginkan untuk melayani client pria, mereka mengetahui itu,” tuturnya.

“Banyak yang hadir dari latar belakang pekerja sex di negara asal mereka, yang ialah Thailand dalam banyak masalah.”

“Mereka mesti kerja enam hari satu minggu, semua pendapatannya dibayarkan untuk melunasi hutang mereka. Jadi mereka tidak terima uang yang hadir ke klien-klien itu.”

Dia menjelaskan beberapa aktor akan mempunyai uang yang ditambah lagi ke hutang mereka cuma untuk dapat makan.

“Mereka tidak mempunyai paspor mereka sendiri, mereka tidak terima uang dari client, apabila mereka memerlukan uang untuk makanan, jumlahnya itu akan ditambah lagi ke utang mereka,” tuturnya.

“Demikian mereka membayar utang mereka, mereka lalu bertahan di industri sex, jadi germo serta membawa wanita lainnya untuk lalu dieksploitasi seperti mereka.”

Jumlahnya korban wanita tinggi

Baxter menjelaskan dia temukan jika hakim seringkali meremehkan latar belakang wanita, atau memandangnya menjadi fakta buat mereka untuk lebih tahu.

Dia menjelaskan hakim seringkali menjelaskan beberapa hal seperti aktor “semestinya tahu” tingkah laku mereka salah, mengingat mereka sempat merasakannya sendiri.

“Begitu simpel untuk menjelaskan ‘anda semestinya tahu lebih baik’ serta ‘anda mesti pilih kehidupan yang jauh dari itu’, tapi berapa sesuai kenyataan mereka dapat lakukan itu?” kata Baxter.

“Dalam kondisi apa pun yang menyentuh, latar belakang pelanggar atau aktor akan seringkali jadi fakta yang baik kenapa pelanggaran itu berlangsung, ini diaplikasikan dalam penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual serta beberapa kasus intimidasi.”

Penelitiannya memiliki pendapat jika prinsip-prinsip itu harus juga laku untuk latar belakang aktor perdagangan manusia, yang sering mempunyai peluang hanya terbatas untuk tinggalkan dunia itu demikian hutang pada beberapa penangkapnya terbayar.

“Dari tempat mana mereka bebas?” kata Baxter.

“Ya, mereka tidak mempunyai utang. Pola hidup itu serta beberapa kondisi itu serta pekerjaan itu yang mereka mengetahui.”

“Mereka masih tetap mempunyai ketrampilan bahasa Inggris yang hanya terbatas serta ketrampilan perdagangan yang hanya terbatas.”

Menurut Tubuh Narkoba serta Kejahatan PBB (UNODC), “hampir tiap-tiap” negara di dunia terserang efek perdagangan manusia dengan beberapa ribu pria, wanita serta anak-anak jadi korban.

Associate Professor Flinders University dalam bagian Kriminologi, Marinella Marmo, menjelaskan analisa studi masalah di Australia ini akan berefek relevan.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah tunjukkan ketertarikan untuk bikin profile tidak cuma korban yang diperjualbelikan tapi pun pelanggar hukum,” kata Dr Marmo.

“Statistik tunjukkan jika hampir 3 dari 10 aktor perdagangan manusia ialah wanita.”

“Studi Baxter tunjukkan jika [sebuah] pendekatan mencegah sosial yang lebih inklusif mungkin dibutuhkan untuk meminimalisir siklus korban-pelaku di bagian perdagangan manusia.”